Langsung ke konten utama

Ketika Cerita Sandal Jepit Masuk Meja Hijau

Banyak orang yang berteriak, mengapa pencuri sandal jepit sampai dituntut di persidangan? Bukankah harga sepasang sandal jepit itu tidak seberapa? 
Seharusnya kita melihat persoalan ini dengan jernih. Pencuri adalah pencuri. Biarpun hanya mencuri sepasang sandal jepit, pencuri tetaplah harus dihukum. Bagi sebagian orang yang punya penghasilan besar, nilai sepasang sandal jepit tidaklah seberapa. Tetapi bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan, nilai sepasang sandal jepit amatlah besar. Harga sepasang sandal jepit bisa ditukar dengan 2 kilogram beras, dan itu cukup untuk makan sekeluarga selama dua hari.
Jika pencuri sandal jepit tidak dihukum, maka pencuri sandal jepit akan merajalela. Mereka tidak akan takut untuk mencuri, karena tidak ada hukuman untuk mereka. Mereka juga akan berfikir bahwa mencuri sandal jepit bukanlah sebuah kesalahan.
Tindakan polisi yang memperkarakan pencuri sandal jepit ke pengadilan sudah benar. Ini adalah sebuah "shock therapy" untuk memberikan pelajaran kepada pencuri. Pelajaran tersebut adalah; biarpun itu hanyalah sebuah sandal jepit, jika itu bukan milikmu maka janganlah kau ambil. Mencuri itu adalah sebuah kesalahan. Dan kesalahan harus ada ganjaran hukuman.
Ketika akhirnya hakim hanya memberikan hukuman mengembalikan pencuri tersebut kepada orang tuanya untuk dibina, keputusan tersebut rasanya sudah tepat. Mungkin hakim memandang bahwa cukuplah proses pengadilan yang melelahkan menjadi sebuah hukuman untuk pencuri tersebut, dan menjadi pelajaran berharga agar tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Amar Ma'ruf Nahi Munkar" atau "Amar Munkar Nahi Ma'ruf"?

"Amar ma'ruf nahi munkar" artinya menyuruh mengerjakan yang baik dan mencegah perbuatan jahat. Didalam ajaran agama Islam, perbuatan ini sangat dianjurkan. Tujuannya agar tercapai kemaslahatan umat dunia dan akhirat. Namun semenjak kampanye Pemilu pemilihan presiden di tahun 2014, frasa ini banyak digunakan sebagai alasan melakukan propaganda licik atau kampanye negatif untuk menyebarkan keburukan lawan politik. Tujuan utama dari "amar ma'ruf nahi munkar" menjadi kabur, sepertinya bukan keselamatan umat yang diutamakan, tapi keselamatan kekuasaan. Mereka yang ingin ber"amar ma'ruf nahi munkar" seharusnya menakar ulang kemurnian niat baik mereka. Jangan sampai niat baik ini disusupi oleh nafsu untuk meraih kekuasaan atau melampiaskan kebencian. Kalau ini yang terjadi, bukan amalan "amar ma'ruf nahi munkar" yang dilakukan, tapi "amar munkar nahi ma'ruf". 

Presiden Harus Pilihan Saya?

Jadi menurut anda Indonesia akan lebih baik jika hanya dipimpin oleh presiden pilihan anda? Dan jika dipimpin oleh presiden yang bukan pilihan anda, Indonesia akan menjadi menjadi lebih buruk? Saya faham, anda berharap banyak pada presiden pilihan anda untuk membawa Indonesia  menjadi lebih baik. Seharusnya anda juga memahami, kami juga berharap demikian pada presiden pilihan kami. Mengkritik presiden atau pemerintah itu boleh- boleh saja. Di zaman keterbukaan dan kebebasan menyatakan pendapat tentu hal itu tidak dilarang. Tapi tentu saja kritik yang disampaikan harus rasional, bukan kritik yang membabibuta. Sampaikanlah kritik yang dilandasi semangat untuk melakukan perbaikan, bukan kritik yang dilandasi oleh rasa amarah dan kebencian.

Jokowi Itu Manusia, Bukan Malaikat Atau Setan.

Jokowi itu bukan malaikat, yang tidak punya khilaf dan dosa, sehingga harus terus-menerus dibela. Tapi Jokowi juga bukan setan , yang tidak pernah berbuat baik dan tidak pernah berjasa, sehingga harus terus-menerus dihujat dan dicela. Jokowi itu manusia seperti kita. Jika ia salah dan menyimpang, wajib dikritik dan diluruskan. Tapi jika ia berbuat baik, wajib juga kita puji dan beri dukungan. Berlaku adil dan rasional adalah jalan terbaik untuk melakukan penilaian. Jangan sampai fanatisme membunuh akal sehat kita semua.