Langsung ke konten utama

Umat Capres

Saya cuma khawatir umat Islam di Indonesia sekarang bukan lagi umat nabi Muhamad SAW, tapi sudah menjadi umat Prabowo dan umat Jokowi.
Lihatlah sekarang, mereka saling hina, saling caci, saling maki, hanya karena berbeda pilihan calon presiden. Padahal mereka sama-sama muslim.
Ulama yang berada di fihak Jokowi dihina dan direndahkan oleh pendukung Prabowo, demikian juga sebaliknya.
Sayangnya hal ini dilakukan oleh mereka yang taat beragama.
Bagaimana mau membangun ukhuwah islamiyah jika hanya gara-gara beda dukungan capres saja sudah mau gontok-gontokan?
Yang mau jihad, jihad untuk apa? Jihad untuk membunuh saudara sendiri hanya untuk kepentingan politik, apakah berpahala.
Saya malah khawatir yang mati karena jihad politik bukan mati syahid, tapi mati modar.
Bukan surga yang didapat, malah neraka jahanam.
"Lupakan saja ukhuwah islamiyah. Lupakan juga Islam agama damai. Bahkan lupakan Islam adalah agama kebenaran. Yang penting adalah bagaimana agar capres kita menang"
Dan iblis pun terbahak bersorak...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Amar Ma'ruf Nahi Munkar" atau "Amar Munkar Nahi Ma'ruf"?

"Amar ma'ruf nahi munkar" artinya menyuruh mengerjakan yang baik dan mencegah perbuatan jahat. Didalam ajaran agama Islam, perbuatan ini sangat dianjurkan. Tujuannya agar tercapai kemaslahatan umat dunia dan akhirat. Namun semenjak kampanye Pemilu pemilihan presiden di tahun 2014, frasa ini banyak digunakan sebagai alasan melakukan propaganda licik atau kampanye negatif untuk menyebarkan keburukan lawan politik. Tujuan utama dari "amar ma'ruf nahi munkar" menjadi kabur, sepertinya bukan keselamatan umat yang diutamakan, tapi keselamatan kekuasaan. Mereka yang ingin ber"amar ma'ruf nahi munkar" seharusnya menakar ulang kemurnian niat baik mereka. Jangan sampai niat baik ini disusupi oleh nafsu untuk meraih kekuasaan atau melampiaskan kebencian. Kalau ini yang terjadi, bukan amalan "amar ma'ruf nahi munkar" yang dilakukan, tapi "amar munkar nahi ma'ruf". 

Presiden Harus Pilihan Saya?

Jadi menurut anda Indonesia akan lebih baik jika hanya dipimpin oleh presiden pilihan anda? Dan jika dipimpin oleh presiden yang bukan pilihan anda, Indonesia akan menjadi menjadi lebih buruk? Saya faham, anda berharap banyak pada presiden pilihan anda untuk membawa Indonesia  menjadi lebih baik. Seharusnya anda juga memahami, kami juga berharap demikian pada presiden pilihan kami. Mengkritik presiden atau pemerintah itu boleh- boleh saja. Di zaman keterbukaan dan kebebasan menyatakan pendapat tentu hal itu tidak dilarang. Tapi tentu saja kritik yang disampaikan harus rasional, bukan kritik yang membabibuta. Sampaikanlah kritik yang dilandasi semangat untuk melakukan perbaikan, bukan kritik yang dilandasi oleh rasa amarah dan kebencian.

Jokowi Itu Manusia, Bukan Malaikat Atau Setan.

Jokowi itu bukan malaikat, yang tidak punya khilaf dan dosa, sehingga harus terus-menerus dibela. Tapi Jokowi juga bukan setan , yang tidak pernah berbuat baik dan tidak pernah berjasa, sehingga harus terus-menerus dihujat dan dicela. Jokowi itu manusia seperti kita. Jika ia salah dan menyimpang, wajib dikritik dan diluruskan. Tapi jika ia berbuat baik, wajib juga kita puji dan beri dukungan. Berlaku adil dan rasional adalah jalan terbaik untuk melakukan penilaian. Jangan sampai fanatisme membunuh akal sehat kita semua.